Perjalanan Pencarian Pulau Impian

| Sabtu, 15 Desember 2012
Para pelaut sibuk berlalu-lalang di dalam kapal Nabi Nuh. Mereka tampak asyik bergulat dengan tugasnya masing-masing. Ada yang sedang melepas jangkar dan ada juga yang melebarkan layar. Di langit, burung-burung  bernyanyi, sementara  di  kapal, para  awak  dengan  semangat  kembali  berlayar  menuju  samudera  berikutnya. Semua telihat bersiap menuju pulau Nabi Sulaiman.

Dalam perjalanan kali ini, Hang Juro bersama awak kapalnya berlayar menuju pulau yang menjanjikan kebahagiaan itu. Meraka percaya, di pulau Nabi Sulaiman, mereka akan mendapatkan tahta, ilmu pengetahuan, bahkan cinta yang telah lama diimpikan. Namun ternyata perjalanan yang dilalui tak semudah membalikkan telapak tangan.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Hang Badar menemukan Rais, salah satu awak kapalnya, membuang semua perbekalan ke laut hingga para pelaut pun geram. Beruntung, kedatangan Hang Juro mendamaikan suasana saat itu.
Namun di dalam perjalanan, seorang pelaut lain mulai mengeluarkan sifat aslinya. Shiva, pelaut itu dan Juhael, anak buahnya yang serakah, bernafsu untuk merebut kekuasaan dalam Kapal Nabi Nuh. Direncanakannyalah pembunuhan terhadap Maharani, kekasih Hang Juro. Tak hanya itu, Satu per satu awak kapal pun Nuh dibunuhnya.
. Begitulah sepenggal pementasan oleh teater eL’nama yang diselenggarakan di Auditorium Bulungan Jakarta Selatan, Senin (11/6) lalu. Pertunjukan bertajuk Hang Juro ini menjadi pembuka dalam perlombaan Festival Teater Jakarta Selatan (FTJS).
Pementasan yang disutradarai Ahmad Echo Chotib ini mencoba untuk menyampaikan kepada penonton bahwa dalam mencapai sebuah tujuan, selalu ada rintangan dan cobaan. Namun, tinggal bagaimana langkah-langkah yang akan kita ambil untuk melewatinya.
Siti Rukoyah yang memerankan Zakia mengaku menyiapkan pementasan ini kurang dari satu bulan. Meski tak berharap menjadi pemenang, ia dan teman-temannya berusaha mencoba menampilkan yang terbaik.
Mengenai pementasan Perjalanan Hang Juro, Dwi Hastuti, mahasiswi semester 8 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) mengaku tertarik menonton teater ini.”Ending dan alurnya berjalan dengan lurus dan berhasil membuat saya  penasaran,” jawabnya.
Walaupun tergolong sukses, ada beberapa adegan yang dinilai Hastuti sedikit monoton. “Ada  pemain  yang  masih  terlihat  pasif,” lanjutnya. (Nurlaela)

0 komentar:

Posting Komentar

Next → ← Prev
▲Top▲