Newest Post

Class Solidation, Ajang Kekeluargaan Maba

| Selasa, 08 Januari 2013
Baca selengkapnya »

Mahasiswa Baru, berfoto bersama saat upacara penutupan OPAK di Balkon FKIK (1-9).jpg
Print
Mahasiswa Baru, berfoto bersama saat upacara penutupan OPAK di Balkon FKIK (1-9).jpg
UIN Jakarta, INSTITUT- Di tengah kesibukan perkuliahan yang relatif cukup tinggi, rupanya rasa solidaritas dan rasa kekeluargaan masih sangat penting untuk ditumbuhkan di dalam diri mahasiswa. Di mana, mahasiswa dikenal begitu melekat dengan sikap individualismenya yang masih tertanam.

Itulah yang ingin ditanamkan ke dalam diri setiap mahasiswa baru (Maba) oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), pada upacara penutupan Orientasi Pengenalan Akademik dan Kebangsaan (OPAK) 2012 dalam acara class solidation yang dituturkan panitia divisi acara OPAK FKIK, Badra Al-aufa.
“Sesibuk apapun aktivitas kelak, solidaritas dan rasa kekeluargaan di FKIK harus tetap diutamakan,”ucap Badra penuh semangat, Sabtu (1/9).
Badra menjelaskan, selain bertujuan sebagai acara inagurasi, tujuan utama untuk mempererat mahasiswa baru (Maba) satu angkatan. “Ini untuk menyatukan mahasiswa satu angkatan yang terdiri dari empat jurusan, jadi mereka dapat meredam ego profesi masing-masing jurusannya,” jelasnya.
Banyak cara yang dilakukan BEM FKIK untuk memupuk rasa solidaritas antar Maba dengan memberikan tugas. Di antaranya tugas untuk bertukar informasi. “Jadi setiap Maba diwajibkan membawa foto dan saling bertukar biodata sebanyak seratus orang yang harus ditempelkan di diary masing-masing,” tuturnya, Sabtu (1/9).
Pemberian tugas esai yang diberikan oleh panitia, menurut Badra, telah menciptakan rasa kekeluargaan dan kesolidan di antara Maba saat mengerjakan tugas. “Ternyata nggak setiap orang punya laptop, akhirnya untuk menyelesaikan tugas mereka membagi kelompok untuk membantu yang belum selesai,” ungkapnya senang.
Badra juga menuturkan, dalam acara penutupan OPAK ditentukan pula ketua angkatan 2012, yang akan mengetuai proyek seperti baksos, dan edu fair antar sekolah. Menurutnya, dengan dipilihnya ketua angkatan bisa menjadikan satu angkatan mereka lebih kompak lagi.
Maba Jurusan Kesehatan Masyarakat, Riko Adiyatma mengatakan, acara ini sangat menyenangkan, karena bisa saling mengenal dekat dengan Maba–Maba yang lain dan panitia BEM. “Pokoknya keren acaranya, bisa ngebangun kekeluargaan,” ujarnya.
Menurutnya, acara solidation ini sangat penting, karena jika sedang dihadapkan pada masalah bisa diselesaikan dengan sesama. Jika emosional maba tidak terbentuk, sulit untuk menghimpun kekeluargaan. Maba akan cenderung masing–masing. Ia berpesan, tali silaturahmi harus dijaga dan tetap menjaga kekompakan, “Karena kita satu,” pungkasnya.
Senada dengan Riko, Maba jurusan Farmasi, Nita Fitriani mengapresiasi dengan baik acara class solidation. Ia mengatakan, acara ini selain menyenangkan juga berkesan. “Acara ini sangatlah penting karena kekompakan itu tercipta dari solidaritas,” ujarnya, Senin (3/9). (Nurlaela, Maulana Fityan).

Class Solidation, Ajang Kekeluargaan Maba

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 08 Januari 2013
With 1 komentar:

FLAT: Rantai Bahasa untuk Gali Kreativitas

|
Baca selengkapnya »

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Foreign Languages Assosiation (FLAT) mengadakan acara yang bertajuk The Chain of Language Creativity. Acara yang dilaksanakan di Aula Madya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini bertujuan menarik minat mahasiswa baru (maba).

Hal itu diungkapkan oleh ketua pelaksana, Ruri Gamal Paci. ”Kegiatan ini dalam rangka pengkaderisasian dan memperkenalkan FLAT, khususnya kepada maba,” katanya. Selain  itu, kegiatan tersebut sebagai  syarat  anggota  muda untuk  menjadi  anggota.
Acara talkshow yang diisi pemberian materi mengenai tips menerjemahkan novel, pembuatan subtitle film dan musik. Tak hanya itu, banyak karya yang dipamerkan di antaranya, translate novel,subtitle film, dan subtitle music. “Semua itu hasil karya anggota muda,” jelas Paci pada Rabu (19/9).
Pada saat materi dimulai oleh Toni, Mantan Ketua FLAT, menjelaskan, menerjemahkan novel berarti mengubah makna dari membaca, dan menerjemahkah novel jauh berbeda dengan membaca.

Ia juga memberikan kiat-kiat menerjemahkan novel yang baik dan benar. Bagi Toni, ada dua metode untuk menerjemahkan novel, yaitu harus disampaikan secara komunikatif dan diperhatiakn juga semantiknya. “Orientasi komunikatif bahasanya lebih mempertahankan pesan pada novelnya, sedangkan semantik itu lebih mempertahankan tulisannya,” jelasnya.

Kiat lainnya yaitu penerjemah harus memiliki rasa bahasa, di mana rasa tidak  dengan mudah dapat dipelajari, melainkan penerjemah harus memiliki banyak pengalaman menerjemahkan, sehingga terjemahan yang dibuat sama dengan bacaan terjemah versi aslinya.
Menurut Toni, penerjemah haruslah menguasai berbagai bahasa, hal itu memudahkan saat menerjemahkan ke dalam bahasa asing. Ia juga menuturkan, seorang penerjemah harus mempunyai keakraban dengan budaya “Akan sulit apabila menerjemahkan novel tapi tidak tahu budaya,” ucap Toni.

Pengetahuan umum yang luas dan sumber referensi yang mendukung juga perlu diperhatikan dalam menerjemahkan sebuah novel, agar informasi yang didapatkan bisa dipertanggungjawabkan, tambahnya.

Tak hanya kiat-kiat, Toni juga memberikan strategi untuk menerjemahkan novel yang baik. “Pertama, read to view, cara untuk mendapatkan gambaran umum tokoh, alur, dan pesan yang tersirat. Kedua find detail information, cara bagaimana mencari informasi mengenai pengarang, dan terakhir identify problematic part untuk menandai bagian dari bagian masalah,” tutur Toni.

Sama halnya dengan Toni, Aisyah Chairina salah satu anggota FLAT menerangkan, cara pembuatan tutorial subtitle film. “Di dalam pembuatan subtitle mempunyai dua langkah, di mana subtitle hard itu sub-nya sudah menyatu dengan film dan nggak bisa diubah, sedangkan soft sub masih bisa diubah,”paparnya.
Acara tersebut disambut baik Irna Octarina, maba jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, ia mengaku senang mengikuti acara yang diadakan FLAT. “Saya sangat senang mengikuti acara ini, karena bermanfaat, apalagi dengan pemberian tips dan trik menerjemahkan novel, itu sangat membantu tugas reading saya,” tukasnya.
Senada dengan Irna, maba jurusan matematika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Muhammad Lutfi Khaddafi, menyatakan kepuasannya terhadap materi subtitle film yang diberikan oleh FLAT. ”Tekniknya mengena. Apalagi dengan pemberian materi seperti ini, saya bisa praktekkan sendiri,” ungkap Lutfi sambil tersenyum simpul.
Kendati demikian, Lutfi sangat menyayangkan waktu yang diberikan untuk materi kurang lama. “Berhubung menjelang waktu magrib jadi cepet banget materinya. Kalau materinya menarik kenapa nggak diperpanjang waktunya,” jawab Lutfi.
Peserta  yang  hadir  dalam  acara  tersebut sebanyak  sekitar 170 orang. Menurut Paci hal itu di luar target pencapaian. “Rasanya wah banget, ternyata antusias mereka besar juga untuk ikut acara ini, padahal target kita hanya 120 orang.” (Nurlaela)

FLAT: Rantai Bahasa untuk Gali Kreativitas

Posted by : Unknown
Date :
With 0komentar

Pawai Obor Menyambut Datangnya Ramadhan

|
Baca selengkapnya »

Cibarusah, INSTITUT-  Beberapa jam setelah berkumandangnya adzan isya, para warga kampung Kebon Kopi Cibarusah, berduyun-duyun berkumpul di pinggir jalan untuk mempersiapkan pawai obor. Kegiatan pawai obor ini diadakan dalam rangka menyambut datangnya bulan ramadhan.
Dengan mengenakan busana muslim dan membawa sebatang kayu berukuran setengah meter yang dijadikan sebagai obor. Pawai obor tersebut tidak hanya diikuti oleh orang dewasa dan remaja melainkan anak-anak juga ikut berpartisipasi. Rabu (18/7) malam lalu.

Masing-masing warga telah bersiap membentuk barisan. Dari arah timur nampak puluhan warga lainnya berjalan kaki dengan membawa obor tengah menyala yang kemudian merapat dan bersatu dengan puluhan warga lainnya.
Bersama dengan alunan shalawat dan kesejukan hembusan angin malam. Semua warga yang telah berkumpul beramai-ramai memulai perjalanan pawai obor. Selain itu, tak ketinggalan lantunan musik islami dan tabuhan rebana pun mengiringi setiap langkah dalam menyusuri sejumlah jalan raya Cibarusah.
Seorang tokoh setempat yang sekaligus sebagai ketua panitia pelaksana, Awan Gunawan, menjelaskan, kegiatan ini selain menyambut datangnya bulan ramadhan, untuk memelihara tradisi setempat.“Pastinya acara ini untuk meningkatkan tradisi lama yang sudah dipelihara masyarakat kebon kopi agar tidak luntur,” jelasnya. Rabu (18/7).
Selain itu, Awan juga menambahkan, dalam kegiatan pawai obor kali ini banyak nilai yang ingin disampaikan kepada masyarakat Cibarusah, dalam islam mengajarkan harus terciptanya persatuan antar umat islam.
Ia juga menuturkan, antusias penduduk yang ikut dalam pawai kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.“Perbedaannya sangat jelas dengan tahun lalu, yang ikut tahun ini lebih banyak,” ungkapnya sambil tersenyum.
Senada dengan Awan, salah satu warga Kebon Kopi Neni Yulianti mengaku senang mengikuti pawai obor kali ini.“Meskipun baru pertama kali ikut, tapi acara kali ini memang sangat berbeda dan menyenangkan, walaupun sambil jaga anak juga,” kata Neni sambil menyeringai.
Hal senada dengan Neni, mengenai pawai obor, Sherli Safitri salah satu warga mengaku tertarik ikut pawai obor, namun ia menyayangkan dengan aksi pawai obor ini, sempat membuat macet arus lalu lintas.”Seharusnya, setiap diadakannya kegiatan seperti ini, keamanan harus siap berjaga untuk mengatur lalu lintas juga biar nggak macet gini,” tuturnya. (Nurlaela)

Pawai Obor Menyambut Datangnya Ramadhan

Posted by : Unknown
Date :
With 0komentar

Bike Polo: Sensasi Bermain Polo di AtasSepeda

|
Baca selengkapnya »

Kawasan Senayan dan Bundaran Hotel Indonesia (HI) saat Car Free Day kini bertambah ramai dengan kehadiran sejumlah pengunjung yang bermain polo. Alih-alih bermain polo sambil menunggang kuda, pesepeda yang tergabung dalam komunitas Pedal Riot Bike Polo ini menggunakan sepeda sebagai ganti kuda.
Denny Martadinata, salah satu anggota Pedal Riot bercerita, komunitas ini yang dibentuk pada pertengahan 2010 ini berawal dari ketertarikan beberapa pesepeda yang menyaksikan atraksi permainan bike polo dalam sebuah event pengenalan sepeda fixie.

Bike polosendiri merupakan salah satu variasi olahraga polo yang dimainkan di atas sepeda. Pada awalnya, permainan yang berasal dari Eropa ini dimainkan diatas kuda dengan tujuan mencetak gol,di mana bola yang dipakai terbuat dari kayu atau plastik yang berukuran 3 sampai 3,5 inci, dan menggunakan pemukul berbentuk palu panjang yang disebut mallet.
“Cara bermain polo bike sama saja dengan permainan sepak bola, tapi yang membedakannya hanya alat yang digunakan,” ungkap Denny. Memasukan bola ke gawang lawan adalah salah satu tujuan dalam permainan bike poloini. Selain itu, setiap tim hanya dimainkan oleh 3 orang.
Denny yang sudah lama terjun dalam komunitas ini menambahkan, aturan kemenangan ditentukan dari banyaknya jumlah gol yang dimasukan dengan cara shot hanya sampai 3, misalnya 3-0.
Sekarang pengikut komunitas ini hampir 30 orang anggota tetap. “Hampir setiap pertemuan kami kedatangan anggota baru yang ingin bergabung dengan permainan ini,” jelas Denny. Ia juga menambahkan, komunitas ini diikuti oleh berbagai latar belakang, mulai dari pekerja hingga mahasiswa, bahkan tak jarang siswa SMA pun ikut bergabung.
Sama halnya dengan Denny, Reza Notbeta, salah satu anggota baru Pedal Riot mengungkapkan, ketertarikannya mengikuti pedal riot berawal  saat melihat permainan ini tak berbeda jauh dari permainan hoki. “Permainan polo sangat menarik, selain mirip permainan hoki. Tapikayaknya permainan polo lebih menarik, apalagi menggunakan sepeda,” ungkapnya sambil tersenyum.(Nurlaela)

Bike Polo: Sensasi Bermain Polo di AtasSepeda

Posted by : Unknown
Date :
With 0komentar

Tangga; Idealisme dalam Realita Minangkabau

|
Baca selengkapnya »

Di atas panggung, enam tangga tersusun, tangga-tangga tersebut berdiri tegak pada dinding. Dengan penyinaran cahaya merah, nampak dua perempuan dan enam lelaki. Kedua aktor bergerak lincah. Mereka mengangkat, menaiki, menduduki, dan memutari tangga-tangga bambu.

Tangga yang dijadikan sebagai alat untuk naik dan turun, diubah menjadi sesuatu yang lain dalam pertunjukan malam itu. Tangga dalam pertunjukan ini disajikan baik sebagai jembatan, menara, penjara, beban, keranda, bahkan panggung yang dikombinasikan dengan gerakan teatrikal.
Menampilkan visualisasi yang apik, para pemain berganti-gantian mencipta bentuk dari susunan delapan tangga. Melalui penampilannya, para aktor ingin menyampaikan pesan tentang kehidupan, kematian, dan  perebutan kekuasaan yang disimbolkan dengan tangga dalam pertunjukan malam itu.
Itulah gambaran konsep pertunjukan teater dari komunitas seni teater hitam putih, yang disutradari Yusril, dengan judul teater tangga. Teater tangga ini mengisahkan tentang kritik terhadap dualisme kekuasaan di Minangkabau.
Yusril juga menjelaskan, pementasan ini mencoba untuk menyampaikan kepada penonton bahwa bagaimana kekuasaan itu muncul dari atas dan turun ke bawah. Di Minangkabau, ada pepatah yang mengatakan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Artinya, selalu ada keseimbangan. “Untuk mencapai  sesuatu yg di atas kita menggunakan tangga. Tapi ketika kita sedang di atas, kita melupakannya. Dan untuk mencapai sesuatu, kita butuh orang untuk menopang kita,” ujarnya.
Menurut Yusril, selain mengangkat sistem pemerintahan di Minangkabau yang terpusat, teater tangga ini terinspirasi dari sebuah puisi karya Iyut Fitra dengan judul yang sama, Tangga. “Aku membayangkan puisi itu (tangga) divisualisasikan, walaupun puisi itu dipotong dan dipenggal, tapi Iyut kan tidak mempermasalahkan,” katanya.
Dalam pertunjukkan Tangga malam itu, penonton benar-benar ditantang untuk melakukan proses membaca gerakan tubuh setiap pemain. Yusril mengaku, dalam permainan orang Minang terkenal dengan permainan kata dan mata, tapi ia lebih menekankan permainan kata. “Kan kalau permainan kata itu udah digunakan Chairul Anwar, jadi giliran aku menyajikan permainan mata,” ujarnya.
Yusril menambahakan, penonton diajak bereksplorasi dan berimajinasi dengan pemahaman pesan yang terkandung dalam pementasan tanpa ada dialog yang terlalu banyak. “Kita serahkan kepada penonton tentang pemahaman, mereka punya cerita masing-masing tentang tangga. Jadi pengalaman estetika kita nanti bertemu,” ungkapnya.
Bagi Yusril, semua aktor adalah kreator. “Aku tak memberikan naskah buat para pemain, tapi aku tahu mereka semua adalah seorang kreator, jadi aku bebaskan pemain untuk menciptakan karya sendiri diatas panggung,” tuturnya sambil tersenyum simpul.
Senada dengan Yusril, Dedi Darmadi, salah satu pemain mengaku, dalam pementasan kali ini tak ada naskah yang diberikan. “Kita cuma dikasih arahan oleh sutradara tentang kultur Minangkabau yang harus masuk, seperti silat yang digabungkan dengan tari kontemporer,” ungkapnya sambil tertawa.
Pentas seni yang ditayangkan pada Selasa (25/9) dalam durasi kurang lebih 90 menit ini, terlaksana berkat dukungan ISI Padang Panjang, Dewan Kesenian Sumatera Barat, Dewan Kesenian Jakarta, dan STSI Bandung. Yusril menuturkan, setelah pentas di Jakarta, ia dan komunitasnya akan melanjutkan pentas di STSI Bandung.(Nurlaela)

Tangga; Idealisme dalam Realita Minangkabau

Posted by : Unknown
Date :
With 0komentar

Kebenaran Tuhan dalam Dunia Fisika

|
Baca selengkapnya »

UIN JAKARTA, INSTITUT – Allah memberikan contoh suatu kejadian alam semesta bukan hanya untuk menujukkan kebesaran-Nya, tapi juga untuk dikaji oleh semua umat. Hal itu diutarakan Gatot Wirdianto selaku pembicara dalam seminar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Fisika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Rabu (19/12).

Dalam seminar itu, Gatot menuturkan, banyak ilmuan yang menemukan kebenaran dari ayat-ayat suci Al-Quran dalam kajian dunia fisika. Salah satunya ialah Issac Newton yang telah membuktikan keberadaan Tuhan melalui sistem tata surya.
“Matahari, planet, dan komet yang sangat indah pun hanya dapat berlangsung karena adanya aturan dan kendali Dzat yang Maha Cerdas,” katanya dalam seminar bertema “Menjelajahi Kebesaran Allah Melalui Dunia Partikel, Ketika Fisika Menemukan Tuhan”.
Dalam kajian fisika terbaru, Gatot menjelaskan, para ilmuan telah menemukan Higss atau  partikel Tuhan. Meskipun benda itu dianggap sangat penting dan sulit sekali ditemukan, ia menyangkalnya sebagai Partikel Tuhan karena baginya, benda itu hanya sebagian kekuasaan Tuhan. “Mereka perlu bertahun-tahun untuk membuktikan benar atau tidaknya itu partikel yang selama ini dicari,” ujar Gatot yang sekaligus dosen fisika.
Selain itu, Gatot juga menjelaskan, keberadaan Tuhan kini tak hanya dapat dijelaskan melalui wahyu ataupun kitab suci, tapi bisa dijelaskan secara rasional. Menurutnya, peran agama sudah mulai tergantikan oleh ilmu-ilmu pengetahuan dan filsafat. Hal itu disebabkan dengan berkembangnya rasio pada era Renaissance atau pada abad pertengahan di Eropa yang membuat ilmu pengetahuan dan filsafat semakin maju.
Sementara itu, ketua pelaksana R. Manzilah Fahra menuturkan, banyak sekali ayat Al-Quran yang membuktikan kekuasaan Tuhan yang bisa dikaji dalam ilmu pengetahuan. Bahkan dari partikel yang ukurannya kecil saja dapat meluluhlantakkan orang banyak. “Ketika kota Hirosima yang dibom atom oleh Amerika pada perang Dunia 2,” jelasnya.
Ia pun melantunkan QS. Fuslihat ayat 53 yang berkenaan dengan kekuasaan Tuhan yang dalam artinya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu.”
“Semakin canggihnya teknologi, semakin membuktikan pula kekuasaan Tuhan dalam dunia pengetahuan. Makanya kita bisa belajar dari hal yang kecil, bisa jadi sesuatu yang dianggap kecil tapi ternyata memiliki manfaat yang besar,” ungkap Fahra sembari terkekeh.
Acara seminar yang diadakan di Aula Madya itu mendapat apresiasi dari salah satu mahasiswai Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Lia Khairun Nissa. Ia mengaku tertarik mengikuti seminar. “Dari judulanya saja subhanallah sekali,” ungkapnya kagum.
Kendati demikian, Nissa sangat menyayangkan dari pengisi materinya “Sebaiknya lebih islami. Soalnya lebih nyambung ke moderator, karena pemateri lebih ngejelasin ke rumus-rumus fisikanya, kan kasihan sama yang bukan dari jurusan fisika,” ucapnya. (Nurlaela)

Kebenaran Tuhan dalam Dunia Fisika

Posted by : Unknown
Date :
With 0komentar

Anarkisme Pendidikan Indonesia

|
Baca selengkapnya »


Maraknya perkelahian antar pelajar kembali terjadi. Hal ini telah mencoreng dunia pendidikan di Indonesia. Para pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) menjadi korban bahkan meninggal dunia akibat kekerasan yang disebabkan ulah mereka sendiri.
Menurut data Bimmas Polri Metro Jaya, perkelahian  pelajar di Indonesia, khususnya di daerah Jakarta meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 1992 tercatat 157 kasus. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar. Tahun 1995 terdapat 194 kasus korban meninggal 13 pelajar. Tahun 1998 tercatat 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar, dan meningkat di tahun berikutnya 37 korban pelajar yang akhirnya meninggal dunia.
Sementara itu, menurut Komnas Anak, jumlah tawuran pelajar tahun ini meningkat. Hingga Juni lalu, tercatat sudah terjadi 139 kasus tawuran di wilayah Jakarta, 12 kasus menyebabkan kematian. Sementara pada 2011, ada 339 kasus tawuran yang menyebabkan 82 anak meninggal dunia.
Menanggapi fenomena tawuran pelajar yang kian marak di Indonesia, dosen  Psikologi Pendidikan UIN Jakarta, Solicha mengungkapkan, pendidikan saat ini sangatlah memprihatinkan.”Yang buat saya merinding, pas denger pengakuan dari mulut si pelaku ternyata dia sudah puas menghilangkan nyawa orang lain,” ungkapnya.
Solicha menjelaskan, pemicu terjadinya anarkisme antar pelajar disebabkan oleh berbagai komponen. “Bukan hanya faktor lingkungan, tapi orangtua, guru, kepala sekolah, kurikulum, masyarakat, dan media juga perlu dibenahi,” terangnya.
Adapun pemicu lainnya, kata Solicha, pemberitaan di media turut memicu terjadinya sikap anarkis antar pelajar. “Sebaiknya media tidak hanya memikirkan rating saja, tapi juga dampak-dampak dari tayangan-tayangan negatif, yang sering menghiasi layar kaca,” jelasnya.
Ia menyarankan, penayangan ditelevisi bukan hanya sekedar tontonan, tapi juga tuntunan. “Sebaiknya penayangan tentang prestasi anak bangsa lebih ditonjolkan, agar yang terekam dalam memori anak bukan cuma perilaku negatif tapi yang positif juga,” tambah Solicha.
Sementara itu, faktor internal pun turut memicu terjadinya tawuran. Menurut Solicha, hal itu disebabkan karena remaja sedang mengalami masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa, sehingga mentalnya masih labil dan masih dalam pencarian jati diri dan tujuan hidup. Selain itu, karena kurang mampunya beradaptasi dengan lingkungan sosial yang kompleks menimbulkan tekanan pada dirinya.
Berbeda dengan Solicha, pakar ilmu pendidikan Henry Alexis Rudolf (H.A.R) Tilaar berpendapat, pemicu terjadinya tawuran disebabkan pendidikan yang egois. Di mana proses belajar kini sekedar mengajarkan tentang bagaimana mengejar nilai tinggi, dan sudah melupakan pendidikan moral. “Tujuan pendidikan itu kan bukan untuk otak saja, melainkan segala aspek,” ujarnya.
Selain pendidikan yang egois, salah satu kontributor dari munculnya tindakan anarkis pelajar, sikap egois yang dimiliki setiap anak dan tidak adanya rasa tanggung jawab moral. Sehingga anak yakin hanya dia berdiri di dunia ini dan sikap seperti itu dapat menumbuhkan sikap sadis, egois dan anarkis, di mana dalam hidupnya tidak memerlukan orang lain, papar Tilaar.
Sementara itu, Solicha menilai persoalan lain penyebab terjadinya tawuran adalah pembelajaran yang dirasa membosankan secara terus menerus bagi anak. Hal itu membatasi pelajar untuk berkreativitas dan akhirnya mereka merasa terkekang, yang akhirnya menimbulkan rasa benci dalam hati si anak, dan ingin melampiaskannya ke sekolah lain.
Bagi Tilaar, penyebab lain tindakan anarkis, karena beban kurikulum yang terlalu padat, sehingga akan membuat pelajar cepat merasa stres. Ia berharap dengan adanya penyederhanaan kurikulum bisa membuat pelajar tidak lagi merasa dibebankan dengan materi-materi yang didapatkan disekolah.
“Kurikulum sebaiknya tidak usah terlalu banyaklah. Sebaiknya pendidikan itu lebih dipusatkan pada baca-tulis-hitung, bahasa Indonesia, muatan lokal, dan bahasa Inggris. Materi yang sekiranya akan di Ujian Nasionalkan (UN) saja, sehingga tidak terlalu menjadi beban bagi anak,” ungkap Tilaar saat ditemui di ruang kerjanya, gedung Syafei lantai 6, Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Mengenai penyebab tawuran, Solicha menanggapi, hal itu tidak perlu terjadi asalkan orang tua bisa memberikan perhatian lebih pada anak, tidak cukup dengan pemenuhan materi semata, tapi berbicaralah dengan hati. Begitupun dengan penguatan pada aspek religius. Seperti kebiasaan sholat berjama’ah, mengaji bersama yang dilakukan secara terus menerus dan sharing antar anggota keluarga. Hal tersebut turut berpengaruh positif pada anak.
Ia menambahkan, seorang anak juga perlu belajar menyesuaikan emosi, agar ketika mendapat tekanan, seorang anak bisa mengontrol tingkat emosinya. Sehingga terhindar dari perbuatan anarkis.
Selain itu, untuk meredam sikap anarkis pelajar yang telah tercoreng oleh berbagai faktor eksternal memanglah tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, bagi Solicha dengan mengadakan pendekatan training Emotional Spiritual Quetinent (ESQ) bisa membantu mengubah sikap seseorang. “Ya, walaupun mengubah prilaku seseorang itu tidak bisa dilakukan secara  instan, sebaiknya memang perlu juga dilakukan secara terus menerus baik di sekolah maupun di rumah”.
Lain halnya dengan Solicha, HAR Tilaar mengungkapkan, elemen terpenting untuk mengatasi perilaku pelajar yang anarkis ialah pengajar.“Baik sekolah umum atau sekolah alternatif, pengajarnya juga harus dipersiapkan.” Ia juga mengatakan, tenaga pengajar jangan seperti nasib kurikulum. “Setiap ganti kementerian, pasti kurikulum juga diganti,” imbuhnya.
Kering moralitas
Bagi Tilaar, peserta pelajar sekarang hanyalah para pesakitan yang dididik untuk mencapai kepentingan nasional. “Mending Ujian Nasional hapuskan sajalah,” tegasnya.
Orientasi pendidikan sekarang adalah mengejar sekolah bertaraf internasional dengan gelar world class university. “Dunia pendidikan sekarang ini lebih memperhatikan aspek intelektual,” jelasnya.
Menurutnya, dengan begitu, pendidikan sekarang kurang menghargai kekayaan yang dimiliki budayanya sendiri. Tilaar menyarankan, selain kurikulum yang perlu disederhanakan, perlu juga dibarengi dengan penanaman kurikulum kebudayaan di setiap sekolah. “Kebudayaan pun bisa mempererat satu bangsa dengan yang lainnya.”Tujuannya, anak bisa memanfaatkan waktu dengan menghasilkan karya, dan terhindar dari sikap anarkis.
Menanggapi sistem pendidikan Indonesia, HAR Tilaar menuturkan, ia tak setuju ketika sistem pendidikan dikatakan gagal, baginya itu hanya salah dimanfaatkan. “Toh, koruptor-koruptor itu bukan orang-orang bodoh, melainkan orang-orang cerdas,” katanya.
Senafas dengan Tilaar, Solicha, mengatakan, tak ada yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia jika dilihat dari UU Sisdiknas 2003, hanya saja pengejawantahannya yang perlu dievaluasi.
Ia mencontohkan, proses pembelajaran di sekolah sebagai lembaga formal seringkali lebih berorientasi pengembangan aspek kognitif, sehingga dapat melahirkan aspek perkembangan yang lain.Begitupun dengan pendidikan di rumah. “Jadi kita tidak bisa menyalahkan satu komponen saja,” ungkap Solicha. (Nurlaela)

Anarkisme Pendidikan Indonesia

Posted by : Unknown
Date :
With 0komentar
← Prev
▲Top▲